Beberapa saat ini aku sedang membaca buku The Happines Trap yang ditulis oleh Dr. Russ Harris, seorang ahli psikoterapi asal Australia. Pada awal buku ini, Harris sering menekankan bahwa manusia seringkali salah mengartikan arti bahagia yang sebenarnya. Banyak di antara kita yang sering mengartikan bahwa bahagia itu adalah perasaan yang nyaman. Namun pada dasarnya perasaan itu tidak bertahan lama. Kita terobsesi untuk selalu menggenggam dan terus mengejar perasaan “bahagia” itu agar dapat kita rasakan dalam waktu yang lebih lama. Namun hal tersebut malah dapat menimbulkan perasaan cemas bahkan depresi.
Lalu, bahagia yang sebenarnya itu seperti apa? Dalam realitas di hidup ini, kita tidak selalu berada di atas, terkadang kita memasuki fase di bawah. Kita dapat merasakan kehilangan atau penderitaan. Harris menyatakan bahwa kebahagiaan itu adalah “Hidup dengan kaya, penuh dan bermakna”. Bahagia dimana kita menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang benar-benar penting, melangkah ke arah yang kita anggap bernilai, dan memperjelas tujuan hidup. Dengan kehidupan yang didasari atas hal-hal itu, meskipun kita akan melalui banyak perasaan yang tidak nyaman, seperti sedih, marah, atau kecewa, dan semua perasaan emosi maka kita akan lebih merasakan daya hidup yang sangat besar.
Dalam buku tersebut dicontohkan bagaimana pengejaran rasa “bahagia” itu yang mewujudkan hal-hal yang kurang baik. Bayangkan orang yang sakau, untuk menghilangkan rasa tidak nyaman akibat candu, mereka akan berupaya untuk “memakai” untuk mendapatkan rasa bahagia yang instan. Bukankah itu akan menciptakan efek negatif yang tidak berujung?. Dan contoh lain yang lebih dekat, ketika kita bosan, seringkali ingin menghilangkan rasa itu dengan menonton video-video pendek yang lucu. Tanpa sadar, kita menghabiskan waktu begitu lama untuk mendapatkan rasa “bahagia” itu. Tapi setelahnya, apakah kita bahagia? Rasa-rasanya terasa kosong bukan?
Di sisi lain, aku sempat menonton video podcast Fellexandro Ruby dengan Haenim Sunim. Haenim Sunim yang seorang biksu zen dan penulis best seller dunia, menceritakan perjalanannya dalam meraih kebahagiaan malah menyadarkannya bahwa pencarian tersebut menciptakan jarak antara dirinya dengan dengan kebahagiaan yang diimpikannya. Setiap dia mencapai apa yang dia dahulu inginkan, namun hal itu masih belum sesuai dengan apa yang sebenarnya yang diinginkan. Mungkin kita sering menyalahkan orang, tempat atau keadaan. Namun Sunim menyebut pola pikir tersebut keliru. Kebahagiaan adalah dengan menyadari bahwa setiap keadaan yang kita alami adalah memang untuk kita dan untuk kita. Kebahagian bukan tercipta dari luar, namun dari dalam diri.
It’s not necessarily the circumstances that’s gonna make you happy, instead it’s your mindset that is “I am exactly where I need to be” or “I am exactly what I am to be”. That’s Happiness. That’s freedom. – Haenim Sunim
Catatan baca The Happiness Trap lainnya => Klik di sini


Leave a Reply