Bulan September lalu, di tanggal 6, aku berkesempatan untuk datang di acara Bedah Buku dan Bincang Literasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Cimahi. Niat awalnya aku hanya ingin bertemu dan melihat Kang Maman, tokoh literasi yang aku ikuti di media sosialnya. Tapi, alhamdulillahnya, dapet rezeki lebih hehe.. para peserta yang datang diberi buku novel secara gratis dan souvernir lainnya.
Nah kali ini aku di blog Sedikit Catet mau coba buat ulasan dari hasil membaca Novel Re: dan PeRempuan yang didapat dari acara bedah buku. mari kita fokus ke pembahasan novelnya.
Buku ini menggabungkan dua kisah, yaitu kisah dari Novel Re: dan sekuelnya, novel peRempuan.
Dalam kisah Re: diceritakan Herman, seorang mahasiswa Kriminologi yang berusaha menyelesaikan penelitian skripsinya yang bersentuhan dengan fenomena perdagangan manusia dalam praktik prostitusi di Ibu Kota. Berangkat dari sana, Herman memasuki lingkungan yang penuh dengan kegelapan tersebut dan mulai dekat dengan seorang pelacur lesbian, Re:.
Herman menguliti bagaimana dunia prostitusi yang terjadi di era 90-an. Re:, yang menjadi objek penelitiannya, dipaksa untuk menjajakan tubuhnya kepada sesama perempuan demi melunasi utang yang besar akibat ditipu germo atau mucikari. Seakan-akan dengan utang yang begitu besar, Re: dan pelacur lainnya tidak bisa keluar dari dunia gelap itu. Bahkan sang germo, tidak sungkan untuk membuat kekejaman kepada pelacur-pelacurnya jika berusaha untuk berkhianat kepada dirinya.
Di sisi lain, Herman juga lebih dekat dengan Re:. semakin mengetahui kepribadian dan kehidupan Re:. Hal yang ditekankan, bahwa Re: yang adalah seorang pelacur masih memiliki naluri keibuan, kasih sayang kepada anaknya tidak pernah hilang meski anaknya tidak ada disampingnya. Re: juga cerdas, belajar dari getirnya kehidupan yang dia alami. Dia masih bisa merasakan rasa syukur dalam kehidupannya yang suram dan memiliki pengharapan kepada Tuhan untuk bisa menerima jiwanya.
Lalu, pada bagian novel PeRempuan lebih menceritakan perjalanan Melur, anak dari Re: untuk mencari kebenaran dari ibu kandungnya. Beberapa narasi tentang kisah Re: diceritakan ulang pada bagian ini. Melur, yang sudah menyelesaikan studi S3 nya di Jepang, kembali ke Indonesia untuk menemukan fakta mengenai asal usul keluarganya. Herman yang masih belum memberi tahukan rahasia tersebut menjadi khawatir. Ketegangan antara Melur dan Herman dibalut dengan obrolan yang cukup dalam. Dari situlah Herman takut Melur akan balas dendam terhadap apa yang terjadi pada Melur
Pada cerita PeRempuan juga, Herman menyoroti fenomena prostitusi di era teknologi yang semakin berkembang. Masuk ke dalam dunia gelap pun bukan akibat musibah, namun bisa karena pilihan individu akibat dari pengaruh lingkungan sekitar. Herman membandingkan, Melur yang merupakan anak dari pelacur dapat meraih kesuksesan di bidangnya, dan oknum anak pejabat malah masuk ke dalam dunia gelap itu.
Ketika membaca ini, aku seringkali tercengang. Di kala saat ini propaganda LGBT makin meresahkan, ternyata di beberapa dekade lalu kegiatan itu sudah ada. Dan bahkan, menjadi alat “perbudakan” kepada kaum yang lemah. Buku ini sangat membukakan mata terhadap fenomena tabu yang jarang diungkap secara mendalam karena berdasar dari penelitian Kang Maman.


Leave a Reply